pariwisata kabupaten sidoarjo

Mantan Sekretaris Dispora Ditetapkan Tersangka Proyek Jalur Ekstrem Rp 1,74 Miliar

  Dibaca : 511 kali
Mantan Sekretaris Dispora Ditetapkan Tersangka Proyek Jalur Ekstrem Rp 1,74 Miliar
BARANG BUKTI: Kasat Reskrim, Polresta Sidoarjo, Kompol M Harris menunjukkan barang bukti hasil korupsi yang disita senilai Rp 168 juta beserta berkas bukti lainnya.
space ads post kiri

Sidoarjo, Memo X– Pasca 2 tahun proses klarifikasi, penyelidikan dan penyidikan, tim penyidik Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Satuan Reskrim, Polresta Sidoarjo akhirnye menetapkan mantan Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Mulyadi ditetapkan sebagai tersangka. Pria asal Pondok Mutiara, Desa Jati, Kecamatan Sidoarjo ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Track Extrem (Jalur Ekstrem) di Lingkar Timur senilai Rp 17,4 miliar dari dana APBD Tahun 2015 dengan nilai kerugian sekitar Rp 578,83 juta brrdasarkan hasil audit BPKP Propinsi Jatim.

“Tim penyidik baru menetapkan seorang tersangka yakni Mulyadi. Tersangka statusnya tidak ditahan karena cukup kooperatif selama proses klarifikasi, penyelidikan dan penyidikan. Kami juga tidak khawatir tersangka menghilangkan barang bukti maupun melarikan diri,” terang Kasat Reskrim, Polresta Sidoarjo, Kompol Muhammad Harris kepada Memo X, Rabu (4/10/2017).

Lebih jauh Harris mengungkapkan kendati baru menetapkan seorang tersangka, tetapi dirinya menilai tidak menutup kemungkinan ada tambahan tesangka baru. Hal itu bergantung hasil koordinasi dan ekspose dengan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo.

“Tapi tidak menutup kemungkinan ada tambahan tersangka baru berdasarkan hasil pengembangan penyidikan. Kalau sekarang tersangkanya Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengembangnya bisa ada tersangka lain selain PPK atau PPKom yang bertanggung jawab dalam pencairan proyek ini,” imbuhnya.

Harris menguraikan dalam proses pengerjaan proyek Track Extrem itu, terdapat sejumlah kesalahan. Yakni kesalahan prosedur pengerjaan salah satunya kekurangan volume pekerjaan, serta adanya pemalsuan stempel dan tanda tangan sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara.

“Dari kesalahan prosedur itu menimbulkan adanya pejabat yang mencari keuntungan beserta orang-orangnya,” tegasnya.

Harris merinci, dalam perkara ini tim penyidik selain menyita uang Rp 168 juta, juga sejumlah dokumen lainnya. Diantaranya dokumen kontrak, surat jalan, stempel dan dokumen pertanggungjawaban untuk pencairan proyek yang dikerjakan CV Sinar Cemerlang dengan Konsultan Perencana Martono itu.

“Tersangka dijerat dengan primer pasal 2 UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Tipikor dan Subsider pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Tipikor,” paparnya.

Sementara itu, saat ditanya dengan tanggung jawab dan peran Pengguna Anggaran (PA) Dispora yakni Kepala Dispora saat ini, Harris belum bisa memastikan lantaran masih menunggu hasil perkembangan penyidikan.

“Karena yang kami periksa saksinya puluhan termasuk pekerja proyek. Ditunggu saja perkembangannya,” pungkasnya. (wan/yan)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional